Karena Semua (orang) Tak Sama

Untuk memilih orang lain membantu kita untuk menyelesaikan pekerjaan dibutuhkan kesiapan, baik itu kesiapan yang membantu ataupun kesiapan orang yang ingin dibantu(memperkerjakan). Karena yang benar-benar tau maksud perintah/perkataan adalah orang yang berkata sendiri, oleh karena itu yang bekerja/membantu tentu harus mempunyai pemahaman terhadap setiap kalimat perintah. BIsa saja satu kata bisa berbeda maksudnya jika di katakan orang yang berbeda, kadang pula satu kata berbeda maksud walau dikatakan oleh satu orang karena berbeda intonasi, kondisi, dan suasana saat mengucapkan. 

Sedangkan si pemberi perintah juga tentunya harus mengerti bahwa apakah bahasa (bisa berarti cara bicara) bisa dimengerti oleh orang lain atau tidak. Seorang komunikan yang baik tentunya bahasanya bisa dimenegrti oleh setiap orang yang diajak bicara. Oleh karena itu bisa jadi cara bicara/ bahasa kepada tiap orang berbeda-beda. Contoh gampanganya Tarzan tidak bisa berbicara dengan kambing menggunakan bahasa kera, maka dia harus bicara dengan bahasa kambing kalo mau berbicara dengan kambing.

Tiap suku bangsa punya bahasa sendiri-sendiri, punya tata krama sendiri-sendiri, punya tata bahasa sendiri-sendiri. Bisa jadi tiap individu juga seperti itu. Gambar

Bahan Kimia mengintai kehidupan anda

Tanpa disadari di samping rasa nyaman ketika kita berada di dalam ruangan ternyata banyak sekali bahan kimia yang berasal dri ruangan yang nyaman tersebut yang mengancam kesehatan anda. Dari hasil riset yang dilakukan oleh NASA (Natinonal Aeronautics & Space Administration) di Amerika menunjukkan setidaknya ada 7 bahan kimia yang sering ada dalam ruangan. Baik itu ruang kerja maupun ruang rumah anda.

  1. Formaldehide, antara lain terdapat dalam kayu lapis, produk kertas, furniture, karpet, particle board, tisu dan bahan pembersih.
  2. Benzene, antara lain terdapat pada plastic, tinta, asap rokok, serat sintetis, produk karet, dan detergen.
  3. Trichloroethylene (TCE), antara lain terdapat pada pewarna kain, tinta, lem, cat dan pernis.
  4. Xylene, antara lain terdapat pada lem, alat elektronik, cat, wallpaper dan penutup lantai)
  5. Acetone, banyak terdapat pada bahan kosmetik
  6. Alkohol, banyak terdapat pada kosmetik dan bahan utama pelarut parfum
  7. Ammonia, banyak terdapat pada kosmetik.

Sedangkan akibat dari bahan-bahan tersebut orang akan mengalami yang disebut sick building syndrome. Dampak dalam jangka waktu tertentu bagi manusia yang tinggal atau bekerja di lingkungan dengan bahan tersebut adalah timbulnya masalah kesehatan seperti alergi, mata terasa gatal dan terbakar, mudah mengantuk, mudah lelah, kulit memerah, masalah di saluran pernafasan dan sinus kemudian sakit kepala.

Setiap racun ada penawarnya, setiap penyakit ada obatnya begitu kata orang pintar. Cuma kita berhasil menemukan atau belum. Dan, mencegah lebih mudah dari pada mengobati begitu kata pemerintah,hahahaha…..  melalui risetnya, NASA juga mengungkapkan tanaman hias indoor yang dapat menyerap polutan. Dipilih tanaman hias karena selain mempunyai fungsi estetika, menguapkan air dan penghasil oksigen serta ditambah sebagai penyerap gas-gas berbahaya tersebut tentunya akan membuat ruangan semakin nyaman. Beberapa tanaman yang dapat menyerap polutan menurut NASA antara lain:

  • Sansivera laurentii, menyerap formaldehyde, Trichloroethylene dan BenzeneGambar
  • Palem Bambu, menyerap formaldehyde
  • Gambar
  • Palem Waregu (Rhapis excels), menyerap formaldehyde dan ammonia
  • Gambar
  • Sri Rejeki (Aglaonema),menyerap formaldehyde dan benzeneGambar
  • Anggrek Dendro & Bulan, (Orchid),menyerap formaldehyde, xylene, dan acetoneGambar
  • Dracaena, menyerap formaldehyde, benzene dan trichloroethyleneGambar
  • Spathiphylium, menyerap formaldehyde, benzene, trichloroethylene, alcohol dan acetoneGambar

Untuk tanaman yang mampu memberikan kesegaran di dalam ruangan seperti Pisang kerdil dwarf, palem Areca/kuning,anggrek, palem waregu,spathiphyllum, Anggrek, Athurium Bunga dan sansivera

Tenaga Hydrogen untuk Alat Transportasi

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa kebutuhan energy adalah termasuk isu yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Dimana seiring semakin majunya peradaban manusia kebutuhan akan energy pun semakin besar. Selama ini kebutuhan energy di handle oleh sumber tenaga dari sisa fosil seperti batu bara dan minyak bumi.

Akan tetapi sumber dari bahan tambang tersebut bukan sesuatu yang dapat terus dibuat sandaran akan kebutuhan energy. Di samping keberadaan cadangan di perut bumi yang semakin menipis juga karena sisa-sisa polutannya berbahaya bagi kelangsungan kehidupan di bumi. Sisa pembakaran batu bara dan minyak bumi dituding menjadi polutan utama rusaknya kualitas udara sebagai sumber kehidupan. Maka akhir-akhir ini para ahli memutar otak membuat mesin yang minim akan gas buang.

Itu juga belum cukup karena bagaimanapun kecilnya dampak gas buang tetap saja terbentuk polutan. Yang kecil-kecil tersebut akan menjadi besar karena pengguna mesin dimuka bumi semakin besar. Dan menurut survey sebagai penyumbang terbesar polusi udara adalah sector transportasi. Sehingga perlu dipikirkan pengembangan mesin mobil maupun motor yang ramah lingkungan.

Salah satu pemecahannnya adalah tenaga hydrogen. Disamping keberadaannnya yang melimpah, hasil gas buangnya sangat aman. Prinsip kerjangan adalah reaksi hydrogen dan oksigen dimana bila hydrogen dan oksigen ditemukan pada tekanan tinggi maka terbentuklah air dan pelepasan tenaga yang sangat besar.  Cuma masalahnya karena tenaga yang dihasilkan sangat besar maka diperlukan pengendalian yang jitu. Dan masalah kedua adalah harus dalam tekanan tinggi.

Akan tetapi hal tersebut sudah terpecahkan terbukti bahwa tenaga hydrogen sudah biasa digunakan pada mesin pendorong roket.

Dan kini selanjutnya  sasaranya digunakan dalam alat transportasi. Baik roda dua maupun roda empat. Langkah awal dalam hal ini dilakukan oleh Iwatani dengan membangun Hydrogen Bike. Bila ini terwujud bisa dibayangkan wajah perkotaan di bumi. Konon uap air yang menjadi gas buang adalah air yang bersih dan malah mampu mengikat particle polutan yang terlanjur mencemari udara.

Sekarang yang menjadi masalahnya siapkah kita mengganti dan membangun semua sarana yang ada dimana kita sudah terlanjur nyaman menggunakan bahan bakar fosil. Dan juga bagaimana kita membayangkan berkendara di belakang kendaraan lain dengan uap air sebagai gas buang tentunya akan basah kuyup🙂

Membuat Sabun Colek…. Colek Yuk!!!!!

Keberadaan sabun colek sedikit tergeser dengan adanya keberadaan sabun cair cuci piring. Sabun colek sudah sangat melekat dihati masyarakat sebab keberadaan sabun colek digunakan oleh konsumen jauh sebelum munculnya sabun cair cuci piring. Oleh sebab itu masyarakat terbiasa menggunakan sabun colek dan beralih ke sabun cair cuci piring sangat sulit. Hal ini juga disebabkan juga bahwa sabun colek lebih ekonomis dan bisa di gunakan untuk mencuci pakaian dll. Tetapi dari segi kepraktisan dan kecepatan, sabun cair lebih cepat larut dalam air.

Dalam pembuatan sabun colek, biaya pembuataanya lebih murah daripada pembuatan sabun cair cuci piring sehingga sabun colek lebih murah. Bahan aktif sabun colek Alkyl Benzene Sulfonate ( ABS) merupakan senyawa yang lebih sukar terurai seaca alami. Di banyak negara penggunaan ABS dilarang dan diganti dengan LAS atau SLS. Beberapa alasan masih digunakannya ABS, diantaranya: harganya murah, kestabilannya dalam bentuk krim/pasta dan busanya melimpah.

Komposisi pembuatan sabun colek

1. ABS 11%

2. NaOH secukupnya

3. Soda abu 6%

4. Talk 15%

5. Silikat secukupnya

6. Kaolin 18%

7. Garam 7%

8. Pewarna secukupnya

9. Parfum secukupnya

Peralatan yang dibutuhkan: Wadah, takaran dan pengaduk kayu

Cara membuat sabun colek

1. Setengah air dari 31% + Pewarna aduk rata

2. (1) + Garam aduk rata

3. (2) + Talk aduk rata

4. (3) + Soda abu aduk rata

5. (4) + Larutan NaOH ( NaOH : Air = 40% : 60% ) aduk rata

6. (5) + Sisa air aduk rata

7. (6) + Kaolin aduk rata

8. (7) + ABS aduk rata

9. (8) + Silikat aduk rata

10. Siap dikemas

Repost from :Andin Dwi Hantoro 

“Banyugeni” Upaya Mencari Bahan Bakar Alternatif

Blue Energy atau Banyugeni merupakan campuran “Air-BBM” ???

Kita pernah dihebohkan penemuan Mas Joko Suprapto tentang “Blue Energy” dari SHI (Sarana Harapan Indocorp), dan sebelumnya “Banyugeni” dari UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Persoalan ini begitu mencuat karena waktu berita ini muncul bersamaan dengan kenaikan BBM yang sangat dilematis di Indonesia. Apalagi Mas Joko dengan Blue Energi-nya sedang ditunggu-tunggu dan akan diluncurkan produk tersebut pada peringatan “100 Tahun Kebangkitan Bangsa”. Banyak pakar dan peneliti mulai bertanya-tanya, mungkinkah air dapat digunakan sebagai BBM ?

Saya menduga (perkataan ini sebagai ungkapan etika ilmiah karena saya belum pernah diskusi dengan yang bersangkutan secara langsung) bahwa Blue Energy dari SHI dan Banyu Geni dari UMY tidak mengandung 100 % air, tetapi merupakan campuran Air + BBM + “Katalis” (istilah BE dan Banyugeni). Kalau dugaan ini benar, maka saya juga menduga sesungguhnya campuran itu adalah AIR + BBM + Surfaktan + Garam mineral. Dugaan ini diperkuat perkataan Letkol Chrisetyono (Komandan Kodim Nganjuk) dalam Kompas.com (on line), Sabtu 31 Mei 2008 (18.31 WIB), dalam berita yang berjudul “Putra SBY Pernah Saksikan Pembuatan Blue Energy“. Menurut Letkol Chrisetyono yang menysaksikan langsung pembuatan Blue Energy: “Saat itu Pak Djoko memasukkan bahan tertentu sejenis detergen ke dalam tangki yang penuh dengan air. Air di dalam tangki itu lalu dipanaskan sekitar dua jam sampai benar-benar mendidih. Setelah itu air yang ada di dalam tangki tersebut sudah menjadi bahan bakar“. Demikian jelaslah bahwa yang dimaksud katalis oleh BE atau Banyugeni merupakan suatu surfaktan, karena dalam detergen mengandung surfaktan sodium dodesil sulfat (atau nama pasarannya Lauril sulfat). Bahan BBM yang digunakan tergantung kebutuhannya, misalnya: Solar (untuk mobil diesel), Bensin (mobil dan motor), minyak tanah (untuk kompor) dan avtur (kapal terbang).

Bagaimana hal tersebut dapat terjadi ??, Penjelasannya, Fakta menunjukkan bahwa air dan BBM merupakan dua cairan yang tidak bercampur, tetapi karena adanya surfaktan sebagai emulsifier (bahan pembentuk emulsi atau lebih tepat mikroemulsi), maka kedua cairan itu akan bercampur sempurna (bicontinues microemulsion). Kesempurnaan campuran tergantung dari jenis atau sifat surfaktan dan garam mineral. Surfaktan berfungsi menurunkan tegangan permukaan atau dalam hal ini menurunkan tegangan antar muka campuran Air-BBM, sehingga akhirnya akan menghasilkan campuran yang homogen secara mikro struktur atau mikro molekuler.

Campuran homogen (campuran mikromolekul) yang terdiri dari Air + BBM + surfaktan, dalam proses pembakaran (bereaksi dengan O2) akan terbentuk CO + CO2 + H2O. Bahan CO dan CO2 berasal dari reaksi BBM dan Surfaktan dengan oksigen, sedangkan H2O berasal dari reaksi BBM dan Surfaktan dengan oksigen dan serta penguapan Air (pelepasan H2O dalam skala molekuler). Semua bahan-bahan berupa gas, sehingga akan menggerakkan piston akibat tekanan dari gas tersebut. Perlu dipertegas bahwa gas-gas yang berasal dari pembakaran atau reaksi BBM dan surfaktan dengan oksigen, yakinlah akan menghasilkan gas-gas dalam tingkat molekul sehingga ringan dan memiliki tekanan tinggi. Harapannya juga, pada pelepasan gas H2O yang berasal dari Air dalam campuran di atas menghasilkan pelepasan gas H2o dalam tingkat molekul yang tentunya ringan dan tekanannya tinggi. Hal ini dimungkinkan jika Emulsifier atau surfaktan (ditambah garam mineral) dalam berperan memisahkan air dari tingkat kluster menjadi tingkat molekul dalam campuran. Disinilah peneliti harus banyak bermain-main atau bereksperimen untuk pencarian surfaktan dan komposisi yang tepat (Permasalahan jenis surfaktan dan komposisi dalam campuran ini sangat tepat untuk bahan kajian / penelitian mahasisawa: S1, S2, S3 atau peneliti yang tertarik dengan Baham Bakar ini).

Kajian secara sains tentang campuran air + BBM dan surfaktan menjadi BBM sangatlah memungkinkan, tetapi kajian secara ekonomis perlu direnungkan lebih lanjut ??. Surfaktan yang diperlukan, apakah dapat diproduksi dan dihasilkan secara ekonomis ?? Hal ini perlu kita renungkan lebih mendalam dan keterbukaan cara pikir serta non-Konservatif cara pandang terhadap sains merupakan modal yang kita perlukan untuk mencerna pengetahuan yang ada.

Akhir kata, kami mohon maaf Wacana tentang Blue Energy dan Banyugeni tersebut, hanyalah dugaan saya sendiri karena yang bersangkutan selalu merahasiakan bahan temuannya (saya sangat memaklumi hal ini), kalau salah mohon maaf yang sebesar-besarnya.

ditulis oleh : http://blog.uny.ac.id/hari/

Oli mesin

credit to Tony Wirawan & henri_k_id


Jenis oli mesin ini sangat bervariasi dengan masing-masing memiliki kondisi penggunaan optimum untuk operasional tertentu. Demikian juga ada beberapa lembaga yang bergerak dalam penentuan grade oli ini yang bertugas mengatur klasifikasi oli, sehingga mudah untuk dimengerti dan cocok untuk pemakaian di daerah tsb. Lembaga seperti ini misalnya API (America Petroleum Institute), atau ILSAC (Internasional Lubricant Standardization and Approval Committee) dsb. Salah satu standarisasi yang banyak dipakai adalah standarisasi SAE.

SAE 5W-30: Oli kelas ini ditujukan untuk pemakaian daerah dingin, mudah untuk cranking atau proses starter engine. Oli ini juga didesign memiliki potensi untuk melindungi elemen mesin dari wearing phenomena. Oli kelas ini cukup memiliki grade sekelas SJ atau SH yang ditentukan oleh API, juga mencukupi untuk kategori ILSAC GF-2 untuk driving mothode Gasoline Engine Oils Test.

SAE 5W-20: Oli Multigrade dengan proteksi starter pada suhu dingin, dan menunjang effisiensi bahan bakar. Oli kelas ini cukup memiliki grade sekelas SJ atau SH yang ditentukan oleh API, juga mencukupi untuk kategori ILSAC GF-2 untuk driving mothode Gasoline Engine Oils Test. Karena sifat keencerannya, oli jenis ini tidak semestinya dipakai kecuali apabila ada rekomendasi dari produsen mesin. Hal ini untuk menghindari wearing atau ausnya elemen mesin yang tidak cukup terproteksi dengan kekentalan oli kelas ini.

SAE 10-30: Oli kelas ini memiliki kekentalan lebih pekat dari SAE 5W-30 untuk daerah dingin serta tetap memiliki potensi untuk melindungi elemen mesin.

SAE 10W-40: Oli multigrade yang ditujukan untuk melindungi elemen mesin terhadap perubahan suhu udara segala musim. Bisanya oli kelas ini juga cukup memenuhi kategori untuk standarisasi SJ atau SH dari API, atau ILSAC GF-2 untuk driving mothode Gasoline Engine Oils Test.

SAE 20W-50: Oli multigrade dengan tujuan untuk perlindungan mesin terhadap wearing phenomena, atau goresan terhadap elemen mesin. Didesign untuk pemakaian pada suhu mesin yang tinggi. Memiliki kemampuan kuat untuk membuat lapisan oli pada permukaan elemen mesin. Bisanya cukup memenuhi standarisasi dari kategori ILSAC GF-2 untuk driving mothode Gasoline Engine Oils Test.

 

Kode Oli

Yang pertama sering kita mendengar tentang oli sintetik ato bukan sintetik ato semi sentetik ato banyak deh kita sampe bingung karena dipasaran kalimat2 kayak gitu sering banget kita dapet. Minyak mentah yang diambil dari dari bumi dan diproses sehingga menjadi pelumas ato oli, disebut oli mineral. dan di Indonesia sendiri juga banyak oli mineral tsb. Oli mineral tsb dapat digunakan dan harganya relatif murah, tetapi masih ada kekurangan pada oli mineral tersebut seperti, hasil pelumasan menimbulkan kotoran ato kerak, kurang stabilnya pada iklim ato cuaca yang perbedaannya sangat tinggi di iklim panas dan dingin, hasil pembuangan gas buang kurang ramah lingkungan dan masih banyak lagi apalagi di segi performa. Makanya oli tersebut oleh para produsen oli diproses kembali dengan penambahan zat kimia disana-sini menjadi oli sintetik. kadar penambahan dan proses di oli mineral tsb menjadi sintetik juga berbeda-beda tergantung si produsen oli tesebut. Malah ada juga produsen yang asal sebut aja oli full sintetik padahal tidak memenuhi standar pelumas full sintetik dan ngga pantas disebut oli sintetik. Proses perubahan/penambahan dari oli mineral menjadi sintetik ato semi sintetik meningkatkan performa kinerja oli tersebut seperti kotoran/kerak di silinder berkurang, lebih tahan di cuaca baik tinggi maupun rendah, kerja oli jadi lebih stabil dan umur pemakaian pelumas juga lebih panjang, tingkat penguapan oli mesin didalam silinder lebih kecil, , dan masih banyak keunggulan-keunggulan yang lain.

Mengenali tulisan kode standarisasi di produk2 pelumas seperti yang udah di jelaskan bro Tony diatas adalah sangat perlu bro biar kita mendapat manfaat & kegunaan pelumas secara maksimal sesuai kebutuhan kita.

1. SAE (Society of Automotive Engineers). SAE ini adalah range tingkat kekentalan suatu pelumas seperti contoh
SAE 10w-40 ini menandakan produk ini range kinerja kekentalan pada keadaan dingin sampai panas adalah 10 sampai 40. Ada juga yang hanya menunjukan satu range/grade saja contoh SAE 20. kalo yang menggunakan range 2bh seperti SAE 20w-50 disebut oli multigrade. Kalo huruf w pada 10w adalah singkatan winter yang menunjukan tingkat kekentalan 10 bahkan pada saat winter. Ada juga produk yang tanpa ada simbol w , Misalnya SAE 20-50 , maka produk SAE 20w-50 lebih baik dari SAE 20-50 dilihat dari range kekentalan range suhu yg berbeda. semakin besar angka SAE berarti semakin kental produk tsb. Seperti SAE 10w-40 lebih encer dari SAE 20w-40.

2. API (American Petroleum Institute) adalah suatu grade yang didapat dari lembaga independent yang menetukan sejauh mana kualitas produk pelumas tersebut tentunya dengan seleksi yang ketat. Contoh : API SL. ini menunjukan produk tersebut ditujukan untuk mesin berbahan bakar bensin karena huruf S pada SL , singkatan dari spark (Busi) sedangkan untuk mesin diesel ditunjukan dengan huruf C (compression) seperti API CG dll. Sedangkan Huruf L pada SL menunjukan kualitas produk tsb. semakin mendekati huruf Z maka semakin baik produk tsb. Contoh produk API SL lebih baik secara kualitas dari produk API SF. Sampai saat ini grade tetinggi pada pelumas didunia adalah API SM. Dan perkembangan teknologi akan terus memicu peningkatkan kualitas grade API tsb. Tapi API bukan satu2nya lembaga yang mengeluarkan grade tsb. ada juga ILSAC (International Lubricants Standarization & Approval Commitee) seperti contoh ILSAC GF-2. Dan sampai saat ini yang tertinggi adalah ILSAC GF-4. Dan masih banyak lagi seperti JASO (Japan Automotive Standard Association) , ACEA (Association Des Constructeurs Europeens d’ Automobiles), DIN (Deutsche Industrie Norm).

Batu Alam dan Perawatannya

 

Batu alam merupakan salah satu pernik atau aksesoris yang bisa digunakan untuk memperindah rumah anda bila kita cermat dalam memilih dan memasangnya dengan benar oleh tukang yang berpengalaman..

Dipasaran terdapat beraneka jenis material yang sering dipakai untuk melapisi dinding. Salah satu material adalah batu alam salah satunya. Dimana dia akan mampu membuat tampilan ruangan menjadi alami karena bentuk, tekstur, dan motifnya.

Pada saat pemasangan, material ini dapat menghasilkan beragam pola dan tampilan. Bisa anda pasang dengan pola seperti batu bata dinding, susun sirih, kotak-kotak bujur sangkar, pemasangan maju mundur, dan sebagainya. Bahkan anda bisa memberikan sedikit sentuhan seni sesuai dengan karakter batu alam yang dipakai untuk mempercantiknya. Baik kita ulas beberapa jenis batu alam yang sering dijumpai dipasaran:

Batu kali


Ciri utama dari batu kali adalah berupa Bongkah bongkahan. Batu ini biasa digunakan untuk fondasi rumah. Meski begitu, tersedia juga batu kali lempengan. Bentuk dan ukurannya biasanya tidak teratur. Lempengan batu ini biasa dipakai untuk lapisan dinding ataupun lantai.

Butuh tukang yang berpengalaman dan ahli untuk mendapatkan hasil yang rapi karena ketidak teraturan bentuk tersebut akan membuat proses pemasangan yang rumit. Bentuk dan ukuran yang tidak beraturan jelas membuat proses pemasangan agak sulit.

 

Batu Candi


Bentunya berupa lempengan lempengan, tekstur kasar dan berpori besar sehingga mudah menyerap air. Bila sering terkena air maka warna akan berubah makin kelam hitam. Ukuran yang umum kita jumpai adalah 10 cm x 20 cm, 15 cm x 30 cm, dan 20 cm x 20 cm. ukuran yang lebih besar juga ada sama dengan ukuran keramik yang sering jumpai.

Penggunaan batu canti umumnya pada eksterior semisal teras dan pagar. Bilamana dipakai didalam ruangan berfungsi sebatas pemanis saja.

Batu paras


Dari namanya tentunya akan memiliki tekstur lebih halus. Pembuatan dibantu oleh mesin untuk menghaluskan permukaan. Pilihan warna yang ada beragam mulai dari hijau, cokelat, putih, kuning. Ukuran umum yang kita jumpai adalah 10 cm x 10 cm sampai 20 cm x 40 cm.

Batu paras bisa disesuaikan penggunaannya baik interior maupun ekterior dan juga sebagai aksen dinding atau lantai. Bila akan anda gunakan di luar, maka perlu proses pelapisan dikarenakan sifat porositinya yang tinggi akan menyebabkan mudah ditumbuhi jamur karena batu ini mudah lembab.

Untuk pemasangan, perlu anda gunakan adukan semen yang agak lembek agar dapat terikat dengan kuat ke dinding.

 

Batu Andesit.


Memiliki tingkat kekerasan yang lumayan tinggi, tingkat porositinya relative kecil dan berpori rapat. Warnya gelap dan ukuran yang dijumpai di pasaran adalah 5 cm x 20 cm, sampai 20 cm x 40 cm dan mempunyai ketebalan umumnya 3-4 cm.

batu Andesit sangat cocok dimanapun ruangan anda, pola pemasangan biasanya adalah pola susun bata yang menjadikannya sebagai struktur pelapis dinding kuat karena saling mengikat.

 

Batu Palimanan

Batu palimanan teridiri atas dua jenis, yakni batuan yang pertama sifatnya keras berwarna krem dan permukaannya bertekstur garis-garis yang tidak beraturan.

Kondisi batu yang sifatnya agak keras itu banyak digunakan sebagai bahan tempelan pada dinding tembok untuk eksterior maupun sebagai dekorasi karena keindahan tekstur.

 

Perawatan untuk Batu Alam

Udara yang tercemar maupun karena pengaruh komposisi senyawa dalam udara itu sendiri bisa membuat beberapa senyawa dalam material menjadi rusak, tidak terkecuali pada batu alam yang anda gunakan. Sekarang sudah banyak ditawarkan product-product untuk perawatan batu, sejauh ini yang penulis banyak mengetahui product dari C’ketz antara lain:

 

1. Semen perekat



Merupakan perekat khusus untuk batu alam. Semen ini di klaim terdiri dari bahan perekat batu dan beberapa aditif yang menghasilkan semen yang siap pakai, praktis, flexibel dan mudah digunakan di bidang datar maupun bidang tegak.

2. Perontok Lumut

Terkadang udara juga mengandung spora yang merupakan bibit lumut. Di dukung udara lembab atau curah hujan yang tinggi menyebabkan spora yang menempel di tanah, kayu maupun batu akan tumbuh. Ada yang suka tumbuhnya lumut di dinding batu alamnya karena akan menambah kesan alami tapi ada juga yang tidak suka akan tumbuhnya lumut. Disamping memberi kesan kotor juga akan merusak batu itu sendiri karena dalam metabolismenya golongan lumut memakan batu itu sendiri untuk diurai ke dalam senyawa yang lebih sederhana.

Untuk menjawab kebutuhan pemberantasan lumut beberapa product telah hadir, namun biasanya product-product yang ada menggunakan HCl atau asam kuat lain. Asam kuat memang manjur untuk merontokan lumut namun juga akan merusak batu karena asam akan melarutkan calsium yang menyusun batu. Product yang cocok untuk membersihkan lumut yang penulis ketahui merk C’ketz.



Product ini diklaim menggunakan formula khusus yang aman terhadap batu namun tetap ampuh merontokkan lumut.

 

3. Coating Stone

Bahan asam tidak hanya datang bahan kimia perontok lumut, namun juga pengaruh pencemaran udara. Pencemar atau polutan yang terdapat di udara yang biasanya sulfur yang berasala dari bahan bakar minyak akan tercampur air hujan hingga terjadi hujan sam yang merusak bahan-bahan kayu, batu dan logam. Untuk itu perlu dilakukan perlindungan pada bahan-bahan tersebut. Pada kayu dan logam sering dilakukan pelapisan cat. Namun pengecatan pada batu tidak bisa dilakukan karena akan merusak warna alami pada batu. Maka coating adalah satu-satunya pilihan untuk melapisi batu agar terhindar dari udara dan pencemar lain. Karena coating stone dari product ini tidak berwarna alias transparan kecuali coating khusus batu candi yang di beri warna hitam, alasannnya agar batu candi yang sudah berwarna hitam menjadi lebih tegas warnanya namun tetap tidak meninggalkan kesan alaminya.

Coating merk C’ketz terbagi dua basic, water based yang ramah lingkungan, cocok digunakan untuk di rungan dan solvent based yang mempunyai sifat  lebih tahan air sehingga cocok di tempat yang terkena banyak air.

Dari kedua coating ini terdiri dari glossy bagi yang suka tampilan mengkilap, doff bagi yang suka tampil natural. Tampilan doff cocok bagi yang mempunyai selera minimalis karena tampilannya persis sebelum di lakukan pelapisan,akan tetapi sesungguhnya sudah terlapisi. Disamping itu ada juga water repellent yang menghasilkan tampilan benar-benar mirip batu tanpa coating namun sifatnya menolak air.

Product ini masih belum lama di kenal namun permintaan di area Jawa Timur dan Bali sudah banyak, menurut pihak produsennnya ketika penulis hubungi, pihaknya siap melayani jika ada permintaan luar kota.

contact person yang bisa di hubungi:

1. Esma Wiyono

HP  : 08121640641

Flexy : (031)77540333

2. Agus witanto

HP : 081330185600

Flexy : (031)70560636