“Banyugeni” Upaya Mencari Bahan Bakar Alternatif

Blue Energy atau Banyugeni merupakan campuran “Air-BBM” ???

Kita pernah dihebohkan penemuan Mas Joko Suprapto tentang “Blue Energy” dari SHI (Sarana Harapan Indocorp), dan sebelumnya “Banyugeni” dari UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Persoalan ini begitu mencuat karena waktu berita ini muncul bersamaan dengan kenaikan BBM yang sangat dilematis di Indonesia. Apalagi Mas Joko dengan Blue Energi-nya sedang ditunggu-tunggu dan akan diluncurkan produk tersebut pada peringatan “100 Tahun Kebangkitan Bangsa”. Banyak pakar dan peneliti mulai bertanya-tanya, mungkinkah air dapat digunakan sebagai BBM ?

Saya menduga (perkataan ini sebagai ungkapan etika ilmiah karena saya belum pernah diskusi dengan yang bersangkutan secara langsung) bahwa Blue Energy dari SHI dan Banyu Geni dari UMY tidak mengandung 100 % air, tetapi merupakan campuran Air + BBM + “Katalis” (istilah BE dan Banyugeni). Kalau dugaan ini benar, maka saya juga menduga sesungguhnya campuran itu adalah AIR + BBM + Surfaktan + Garam mineral. Dugaan ini diperkuat perkataan Letkol Chrisetyono (Komandan Kodim Nganjuk) dalam Kompas.com (on line), Sabtu 31 Mei 2008 (18.31 WIB), dalam berita yang berjudul “Putra SBY Pernah Saksikan Pembuatan Blue Energy“. Menurut Letkol Chrisetyono yang menysaksikan langsung pembuatan Blue Energy: “Saat itu Pak Djoko memasukkan bahan tertentu sejenis detergen ke dalam tangki yang penuh dengan air. Air di dalam tangki itu lalu dipanaskan sekitar dua jam sampai benar-benar mendidih. Setelah itu air yang ada di dalam tangki tersebut sudah menjadi bahan bakar“. Demikian jelaslah bahwa yang dimaksud katalis oleh BE atau Banyugeni merupakan suatu surfaktan, karena dalam detergen mengandung surfaktan sodium dodesil sulfat (atau nama pasarannya Lauril sulfat). Bahan BBM yang digunakan tergantung kebutuhannya, misalnya: Solar (untuk mobil diesel), Bensin (mobil dan motor), minyak tanah (untuk kompor) dan avtur (kapal terbang).

Bagaimana hal tersebut dapat terjadi ??, Penjelasannya, Fakta menunjukkan bahwa air dan BBM merupakan dua cairan yang tidak bercampur, tetapi karena adanya surfaktan sebagai emulsifier (bahan pembentuk emulsi atau lebih tepat mikroemulsi), maka kedua cairan itu akan bercampur sempurna (bicontinues microemulsion). Kesempurnaan campuran tergantung dari jenis atau sifat surfaktan dan garam mineral. Surfaktan berfungsi menurunkan tegangan permukaan atau dalam hal ini menurunkan tegangan antar muka campuran Air-BBM, sehingga akhirnya akan menghasilkan campuran yang homogen secara mikro struktur atau mikro molekuler.

Campuran homogen (campuran mikromolekul) yang terdiri dari Air + BBM + surfaktan, dalam proses pembakaran (bereaksi dengan O2) akan terbentuk CO + CO2 + H2O. Bahan CO dan CO2 berasal dari reaksi BBM dan Surfaktan dengan oksigen, sedangkan H2O berasal dari reaksi BBM dan Surfaktan dengan oksigen dan serta penguapan Air (pelepasan H2O dalam skala molekuler). Semua bahan-bahan berupa gas, sehingga akan menggerakkan piston akibat tekanan dari gas tersebut. Perlu dipertegas bahwa gas-gas yang berasal dari pembakaran atau reaksi BBM dan surfaktan dengan oksigen, yakinlah akan menghasilkan gas-gas dalam tingkat molekul sehingga ringan dan memiliki tekanan tinggi. Harapannya juga, pada pelepasan gas H2O yang berasal dari Air dalam campuran di atas menghasilkan pelepasan gas H2o dalam tingkat molekul yang tentunya ringan dan tekanannya tinggi. Hal ini dimungkinkan jika Emulsifier atau surfaktan (ditambah garam mineral) dalam berperan memisahkan air dari tingkat kluster menjadi tingkat molekul dalam campuran. Disinilah peneliti harus banyak bermain-main atau bereksperimen untuk pencarian surfaktan dan komposisi yang tepat (Permasalahan jenis surfaktan dan komposisi dalam campuran ini sangat tepat untuk bahan kajian / penelitian mahasisawa: S1, S2, S3 atau peneliti yang tertarik dengan Baham Bakar ini).

Kajian secara sains tentang campuran air + BBM dan surfaktan menjadi BBM sangatlah memungkinkan, tetapi kajian secara ekonomis perlu direnungkan lebih lanjut ??. Surfaktan yang diperlukan, apakah dapat diproduksi dan dihasilkan secara ekonomis ?? Hal ini perlu kita renungkan lebih mendalam dan keterbukaan cara pikir serta non-Konservatif cara pandang terhadap sains merupakan modal yang kita perlukan untuk mencerna pengetahuan yang ada.

Akhir kata, kami mohon maaf Wacana tentang Blue Energy dan Banyugeni tersebut, hanyalah dugaan saya sendiri karena yang bersangkutan selalu merahasiakan bahan temuannya (saya sangat memaklumi hal ini), kalau salah mohon maaf yang sebesar-besarnya.

ditulis oleh : http://blog.uny.ac.id/hari/

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: